Menanam Empati Tumbuhkan Kecerdasan

Empati_AnakAnak dengan rasa empati yang tinggi, akan memiliki kecerdasaan emosional yang mencakup kecakapan sosial, ketekunan, semangat, kemampuan memotivasi dan mengendalikan diri. Lingkungan yang penuh cinta dan rasa aman adalah prasyarat penting bagi tumbuhnya empati pada anak.

“Ma, anak itu kasihan ya, masih kecil harus jadi pengemis di jalan,” ujar Rika (8 tahun) pada Retno (32 tahun), ibunya. Pandangannya tak lepas pada seorang anak seumurannya yang sedang menyodorkan mangkok plastik dekil pada setiap orang yang lewat di hadapannya. “Iya, berarti kamu harus bersyukur karena tidak seperti dia yang mengemis minta uang pada orang lain,” jawab Retno.

Kemudian, Rika merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan selembar uang seribuan, sisa uang jajan sekolahnya tadi. “Uang ini aku kasihin sama anak itu ya, ma. Boleh kan?, ” tanya bocah kecil berlengsung pipi ini. Retno pun mengangguk menyetujuinya. Lalu, Rika membuka kaca mobilnya dan memanggil bocah pengemis itu. Uang seribu rupiah itu pun berpindah  ke mangkok plastik dekil itu. “Terima kasih ya,” ujar bocah pengemis itu sambil melangkah pergi.

Sikap yang dilakukan Rika, mungkin bisa menjadi contoh anak-anak seusianya. Memperlihatkan sikap empati yang juga menumbuhkan sikap filantropi (rasa kedermawanan) terhadap sesama manusia sudah seharusnya ditanamkan oleh orangtua sejak anak masih kecil. Menurut psikolog dari Lembagai Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Muhammad Rizal Psi, perilaku yang suka menolong dan berempati terhadap orang lain, seperti yang dilakukan Rika sudah tepat. “Orang yang mempunyai rasa empati yang tinggi, biasanya dermawan, disenangi dalam pergaulan, mudah menyesuaikan diri, dan percaya diri,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Rizal, hasil penelitian Gallo (1989) menunjukkan adanya hubungan yang erat antara rasa empati dan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, serta keberhasilan akademik. “Karena seorang anak yang memiliki rasa empati yang tinggi, akan memiliki kecerdasaan secara emosional,” jelasnya. Rizal pun menjelaskan bahwa kecerdasan emosional mencakup kecakapan sosial, ketekunan, semangat, kemampuan memotivasi diri dan kemampuan mengendalikan dorongan diri dan hati.

Selain itu, seseorang yang cerdas secara emosional juga memiliki keterampilan yang berkaitan dengan kecerdasan emosional. Antara lain, kemampuan untuk memahami orang lain, memiliki jiwa kepemimpinan, kemampuan membina hubungan dengan orang lain, kemampuan berkomunikasi, kerjasama tim, membentuk citra diri positif dan kemampuan memberi inspirasi. Oleh karena itu, Rizal menyarankan agar sejak kecil anak-anak sudah dibiasakan untuk menumbuhkan rasa empati pada lingkungan sekitarnya. Mulai dari dalam keluarga dan sekolah. Lingkungan yang penuh cinta dan rasa aman adalah prasyarat penting bagi tumbuhnya empati pada anak.

Sebaiknya, orangtua yang terlebih dulu memberikan contoh kepada anaknya. Misalnya, orangtua memberikan uang kepada pengemis, lalu jelaskan pada anak, kenapa pengemis itu diberikan uang. Agar anak yang nantinya meniru sikap orangtua juga mempunyai alasan yang tepat mengapa ia memberikan sesuatu terhadap orang lain. “Penjelasan itu perlu agar nantinya, sikap filantropi yang ada dalam diri si anak tidak dimanfaatkan oleh orang lain,” paparnya.

 

Pengaruh lingkungan keluarga

Rizal pun mengingatkan, bahwa lingkungan di dalam keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perilaku si anak. “Seorang anak yang terbiasa menerima perlakuan kasar dari orangtuanya, akan keras hatinya, sehingga cenderung tertutup rasa empatinya untuk merasakan penderitaan orang lain,” terangnya. Terlebih lagi, bila orangtua gemar menghardik dan memukul anak jika ia berbuat salah. Perlakuan tersebut juga akan berdampak dan akan menghambat rasa empati. Karena anak akan cenderung membela dirinya, sehingga hatinya akan mengkerut. Hati yang mengkerut dan mengeras adalah hati yang penuh marah dan dendam.

Sebaliknya, memberi contoh konkrit dengan mengajak anak untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain akibat tindakannya yang salah, akan lebih meluluhkan hatinya, sehingga hatinya menjadi lapang. Hati yang lapang adalah hati yang penuh kasih sayang dan cinta. Maka, prasyarat untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dan empati kepada anak adalah dengan memberikan cinta dan kasih sayang sebesar-besarnya kepada anak sejak kecil. Misalnya, anak tersebut memukul kakaknya, lalu dibalas oleh kakaknya dan membuat si anak menangis. “Maka orangtua sebaiknya menjelaskan kepada si anak bahwa apa yang dilakukan sebelumnya telah menyakiti orang lain seperti yang dirasakan si anak ketika ia disakiti orang lain,” terangnya.

DR. Frieda Mangunsong, MEd, psikolog UI mengatakan bahwa memberi sesuatu atau bersedekah, selain merupakan sarana beribadah, juga bisa digunakan untuk melatih empati anak pada orang lain yang juga memunculkan sifat filantropi. “Sikap filantropi itu, hanya merupakan salah satu bagian dari rasa empati pada anak. Kalau rasa empati sudah diasah sejak kecil, maka sikap filantropi dengan sendiri juga akan muncul,” ujarnya.

 

Dimulai dari hal sederhana

Menurut Frieda, empati berarti menempatkan diri seolah-olah menjadi seperti orang lain. “Rasa empati pada anak memang harus diasah. Apalagi, banyak segi positif jika kita mengajari anak berempati. Mereka tidak akan agresif dan mereka akan senang membantu orang lain,” jelasnya. Melatih anak berempati, lanjut Frieda bisa dimulai sejak anak usia 2 tahun, saat mereka sudah mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Biasanya dimulai dari hal-hal yang sederhana. Contoh, ketika anak sedang makan dan di sampingnya ada orang, maka ajarilah anak untuk menawarkan makanannya. Dengan begitu anak biasa berbagi dan peduli kepada orang lain. Agar anak-anak gemar bersedekah sebagai wujud rasa empatinya dan filantropinya kepada orang lain, anak dapat dimotivasi melalui cerita anak-anak yang berbicara tentang berbagi. Atau bersedekah dengan orang lain yang kurang mampu atau dengan memberikan contoh langsung kepada mereka.

Selain itu, orangtua harus bisa mengenalkan aneka perasaan kepada anak, mulailah dengan mengatakan, ‘Adik baik sekali, deh,’ saat dia mencium jari Anda yang luka. Dia akan belajar dari reaksi Anda bahwa reaksi yang diberinya pada Anda diterima, dirasakan oleh Anda, dan ternyata reaksi tersebut merupakan sesuatu yang berarti. Dia juga perlu mengerti dan mengenal perasaan-perasaan negatif, seperti misalnya, ‘Kakak tahu, gak? Adik sedih lho, kalau mainannya direbut dengan kasar. Menurut kamu, apa yang harus kamu lakukan supaya dia merasa lebih baik?’. Ucapan dan memperlihatkan mengenai aneka perasaan kepada anak akan mengasah rasa empati kepada orang lain.

Frieda menambahkan, orangtua hendaknya mengajarkan sejak dini kepada anak agar mereka terbiasa dengan rasa peduli dan memperhatikan orang lain serta lingkungan sekitarnya. Anak-anak pra sekolah biasanya senang melakukan tugas-tugas ringan seperti memberi makanan pada binatang peliharaan. “Nah, lewat kesukaaanya itu, orangtua bisa mengajarkan empati. Lalu beri pujian atas hasil pekerjaan yang dilakukannya dengan baik, dengan mengatakan, ‘Lihat, deh, si Bleki, dia mengibas-ibaskan ekornya. Itu tandanya dia senang karena kamu memberinya makan. Dia betul-betul senang’,” terangnya.

Namun, Frieda juga mengingatkan bahwa sikap empati yang memunculkan sikap filantropi pada anak terkadang juga dimanfaat oleh orang lain. “Itulah pentingnya komunikasi antara orangtua dan anak. Beri penjelasan dengan memberikan contoh nyata beserta alasannya bahwa apapun yang ingin dilakukan si anak kelak, ia juga harus memiliki alasan yang tepat agar terhindar dari pemanfaatan oleh orang lain,” terangnya.

Agar anak memiliki rasa empati dan peduli pada orang lain, Frieda menganjurkan tips berikut ini:

Pujilah mereka saat menunjukkan rasa peduli pada orang lain. Jika anak menunjukkan peduli kepada orang lain, katakan secara spesifik bahwa yang ia lakukan benar. Misalnya dengan menatakan, "Kamu baik sekali, mau berbagi popcorn dengan Tomi. Tadi Mama lihat ia tersenyum. Keliatannya ia senang sekali."

  1. Ajarkan anak untuk mengingat ketika orang lain bersikap peduli padanya. Misalnya, "Ingat betapa ramahnya Sarah kepadamu di hari pertama sekolah, sehingga kamu tidak merasa kesepian?" Dengan melakukan ini, orangtua menguatkan pemahaman anak bahwa tindakan orang lain dapat mempengaruhinya secara emosi.
  2. Ajarkan anak agar lebih peduli dan bertanggung jawab. Buatlah peraturan keluarga yang jelas dan konsisten, dan tuntut anak untuk mematuhi peraturan tersebut. Anak usia 5-6 tahun dapat diberi tanggung jawab untuk merapikan tempat tidurnya sendiri, merapikan buku dan meja belajarnya, memberi makan anjing peliharaan, atau membantu menyiapkan peralatan makan. Jika anak dapat melakukannya, pujilah dia dan ucapkan terima kasih padanya. “Tapi jangan memberi reward dengan imbalan uang, karena mereka harus tahu bahwa membantu orang lain semata-mata karena membantu itu benar dan terpuji,” ujar Frieda.
  3. Ajak anak untuk berbuat baik. Supaya anak berbuat baik, berilah contoh terlebih dulu dengan perbuatan konkret. Misalnya, mengajak anak menengok orang sakit, memberi uang atau makanan kepada peminta-minta, menulis surat ucapan terima kasih kepada nenek yang sudah memberi hadiah, dan sebagainya. Selanjutnya orangtua bisa menyarankan anak menengok temannya yang mungkin sakit. Mengajari anak membukakan pintu sambil mengucap `silakan`, menolong manula atau orang buta menyeberang jalan, menyingkirkan batu dari jalan, meski kelihatan sepele namun bisa mendorong perbuatan yang baik.
  4. Libatkan anak pada kegiatan sosial. Melibatkan anak dalam kegiatan sosial juga perlu. Misalnya, mengikutsertakan anak dalam kegiatan kerja bakti di lingkungan, mengajak anak mengumpulkan pakaian layak pakai untuk disumbangkan, membantu tetangga yang sedang hajatan, dan sebagainya. Melalui berbagai kegiatan itu rasa ingin tahu anak terusik dan melahirkan serangkaian pertanyaan. Misalnya, anak bertanya, “Mengapa harus mengumpulkan barang-barang bekas?”. Maka, orangtua harus bisa menjelaskan alasan dan tujuannya. Misalnya, untuk membantu korban banjir atau korban gempa.” Tentunya, pertanyaan anak akan terus berkembang, dan penjelasan dari orangtua tersebut akan menumbuhkan sikap empati dalam diri anak.
  5. Berikan teladan. Anak adalah duplikasi dari orangtuanya. Jika orangtua berbuat baik, anak biasanya juga akan berbuat baik. Tunjukkan kepedulian kita terhadap orang-orang yang tak mampu. Komitmen kita yang kuat dalam membantu meringankan beban dan penderitaan orang lain akan dapat menular kepada anak-anak.
  6. Jangan batasi pergaulan anak. Seringkali teman yang kesusahan menjadi jembatan yang dapat membukakan mata terhadap hal-hal yang kurang dipedulikan. Barangkali kita menganggap kemiskinan itu berada di luar ‘dunia’ kita. Bahkan, tak jarang kita tak mengetahui kemiskinan yang sebenarnya sebelum kita melihat teman kita sendiri mengalaminya. Biarkan anak kita berteman dengan siapa saja. Jangan batasi pergaulannya agar ia dapat mengenal temannya dari semua kalangan.
  7. Doronglah anak untuk menunjukkan kepeduliannya kepada orang lain. Memberikan uang kepada pengemis atau pengamen adalah salah satu cara agar anak bisa peduli kepada orang lain.
  8. Ajak anak melihat sendiri kehidupan yang lain. Jika memungkinkan, ajaklah anak melihat sendiri atau mengalami kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan yang biasa ia jalani. Ajaklah anak kita mengunjungi tempat dimana banyak orang susah yang berkumpul di sana. Dengan begitu, mereka akan melihat ada sisi lain dari kehidupan manusia.
 

Forum Lapor Suster!

More...
Banner
Banner