Seputar Bayi Baru Lahir; Ini Mitos, atau Fakta, ya?

Begitu banyak informasi yang beredar seputar penanganan terhadap bayi. Teman bilang begini, ibu mertua bilang begitu. Ada yang benar, ada pula yang keliru. Bagi seorang ibu dengan anak pertama, hal-hal seperti ini pasti sangat membingungkan. Oleh karena itu, Dr. Nita Rahma Dewanti, spesialis anak dari RS Internasional Bintaro, siap membantu meluruskan pendapat-pendapat tersebut.

 

Mitos :

new_baby_bornNew-born harus dibedong agar kakinya tidak bengkok membentuk letter-o.

Fakta :

Tidak benar. Hampir setiap bayi memiliki kaki yang tampak bengkok—begitulah fisiologis kaki bayi. Ini dikarenakan ia masih terbiasa dengan posisi meringkuk ketika masih berada di dalam rahim. Lama-kelamaan, kakinya akan lurus dengan sendirinya. Kalaupun tidak, itu mungkin disebabkan faktor genetik. Tidak ada hubungannya dengan dibedong atau tidak.

Pada kenyataannya, dibedong dapat mengganggu peredaran darah bayi. Jantungnya akan terpaksa bekerja lebih berat untuk memompa darah karena tubuhnya dibebat terlalu ketat.  Bahkan, ini berisiko membahayakan tulang panggul—dapat menyebabkan dislokasi panggul dan paha. Beberapa ibu membedong bayi untuk melindunginya dari dingin—baik karena faktor cuaca atau setelah mandi. Tapi sebenarnya, baju lengan panjang dan celana panjang pun sudah cukup untuk menghangatkan tubuh si kecil.

Mitos  :

Bayi perlu dipasangkan gurita agar perutnya tidak kembung.

Fakta  :

Bayi bernapas dengan otot-otot pada perutnya. Jadi, memasangkan gurita justru akan menghambat pernapasannya. Perutnya yang kembung merupakan bentuk alamiah.

Mitos  :

Katanya, agar pusar bayi tidak bodong, harus ditekan dengan koin.

Fakta  :

Sebenarnya, kedua hal ini sama sekali tidak ada hubungannya. Pusar bayi yang baru puput memang agak menonjol, dan itu akan masuk dengan sendirinya. Namun, hal-hal seperti ini terkait dengan sugesti. Kalau sang ibu merasa lebih tenang dengan menerapkan cara ini, sah-sah saja. Dengan syarat, pastikan kebersihan koin karena biasanya uang merupakan tempat bersemayamnya kuman. Cuci dulu dengan alkohol, lalu bungkus dengan kain kasa steril, barulah ditempelkan di perut si kecil.

Mitos  :

Popok kain lebih baik daripada diapers.

Fakta  :

Tidak juga. Baik popok kain maupun diapers memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Di satu sisi, popok kain memang lebih hemat karena dapat digunakan berulang kali. Namun, ini agak merepotkan karena harus selalu diganti setiap kali bayi buang air. Di sisi lain, diapers lebih mahal, tetapi memiliki daya serap yang sangat tinggi, sehingga hanya perlu diganti kalau popok sudah penuh atau ketika bayi buang air besar. Untuk menjaga kulit si kecil, pastikan ukuran diapers sesuai dengan tubuhnya.

Mitos  :

Bayi sebaiknya diberi kopi untuk mencegah kejang.

Fakta  :

Belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan hal ini. Bahkan, pemberian kopi pada bayi terbilang bahaya karena kafein di dalamnya akan membuat jantung mungil si kecil bekerja lebih cepat.

Mitos  :

Bulu mata bayi harus digunting agar tumbuh lebih lentik.

Fakta  :

Bulu mata berfungsi melindungi mata dari gangguan benda-benda asing. Justru jika dipotong, otomatis “tameng” ini tidak lagi dapat berfungsi secara optimal.

Mitos  :

Ibu yang sedang sakit tidak boleh menyusui.

Fakta  :

Penyakit yang diderita ibu menyusui tak akan dapat ditularkan melalui ASI. Sebaliknya, ketika sedang sakit, tubuh akan menghasilkan antibodi yang manfaatnya dapat bayi rasakan dengan minum ASI. Tapi ingat, jika Anda mengidap flu, gunakan masker untuk mencegah penularan.

Mitos  :

Benarkah bayi perlu dipakaikan bedak setelah mandi atau sehabis ganti popok?

Fakta  :

Tidak perlu. Lebih baik, oleskan sedikit baby cream. Pasalnya, penggunaan bedak di daerah lipatan seperti tangan, kaki, atau selangkangan, berisiko menggumpal. Gumpalan ini, jika bercampur dengan keringat, akan menjadi sarang berkembangnya kuman dan bisa menyebabkan iritasi. Belum lagi, partikel bedak yang terhirup si kecil bisa mengganggu pernapasannya.

Mitos  :

Bayi yang mengalami kuning beberapa hari pascakelahirannya harus dijemur di ruangan terbuka.

Fakta  :

Penyakit kuning yang diderita bayi merupakan proses alamiah dari pemecahan sel darah ibunya.  Proses ini memang dapat terbantu oleh sinar matahari, tapi kini, kontak langsung sudah tidak disarankan. Sebaiknya, jemur di balik kaca selama kira-kira 15 menit untuk masing-masing bagian depan dan punggung bayi.

Mitos  :

Ketika bayi demam, harus dikompres air dingin.

Fakta  :

Setelah dikompres, tubuh yang awalnya panas mungkin akan terasa mendingin begitu diraba.  Akan tetapi, ini bukan pertanda bahwa buah hati Anda membaik. Sebaliknya, suhu dingin dari kompresan tersebut akan mengirim sinyal yang salah kepada tubuh anak. Maksudnya, tubuh mungilnya akan menganggap bahwa cuaca sedang dingin dan akhirnya justru merasa perlu untuk memproduksi panas lagi.  Jadi, lebih baik kompres dengan air hangat agar tubuhnya berhenti memproduksi panas.

Mitos  :

ASI pertama yang berwarna kekuningan merupakan ASI yang sudah basi dan tidak baik untuk dikonsumsi bayi.

Fakta  :

ASI pertama adalah kolostrum yang mengandung zat kekebalan tubuh dan kaya akan protein.

Mitos  :

Bayi harus tidur dengan botol susu.

Fakta  :

Penggunaan alat ini memang dapat membantu bayi tidur lebih cepat. Akan tetapi, penggunaan botol susu dapat meningkatkan risiko si kecil terkena infeksi telinga karena susu yang seharusnya diminum justru mengalir ke saluran eustachius—penghubung antara tenggorokan bagian belakang dan telinga bagian belakang.  Jadi, jika Anda ingin memberinya susu dari botol, angkat dulu si kecil dan pastikan agar kepalanya lebih tinggi dari badan. Begitu ia tertidur, pelan-pelan ambil botolnya. Dengan kata lain, botol hanya sebagai pengantar tidur, bukan teman tidur.

 
Banner
Banner